Ryan, visualisasi penyimpangan kaum Homoseks
Ditulis oleh iwansuri di/pada Agustus 15, 2008
Mulai terkuaknya pembunuhan berantai di Jombang, yang menyeret satu tersangka utama yaitu Ferry Idham Heriyansyah atau Ryan, semakin meyakinkan masyarakat bahwa homoseks dari semenjak Nabi Luth sampai sekarang merupakan penyimpangan dari nilai-nilai moral universal. Tidak ada kata yang pantas untuk kaum penyimpang selain diisolasi dari tata kehidupan yang menjungjung tinggi hubungan antar manusia sejenis dan lain jenis, yang menjungjung tinggi ikatan suci perkawinan, dan menjungjung tinggi etika bermasyarakat.
Kasus Ryan, memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat, mana perilaku dan pelaku yang menyimpang, mana perilaku yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral. Allah mempertontonkan penyimpangan kaum homoseks dengan sangat jelas. Mereka dengan motivasi seksual yang menyimpang melakukan perbuatan amoral: mencuri, merampok, menipu dan bahkan tanpa segan akan menghabisi nyawa korbannya. Mereka tidak akan merasa berdosa, karena dosa bagi mereka adalah hak azasi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain bahkan termasuk oleh negara. Selama tidak mengganggu orang lain, begitu kata salah seorang praktisi homoseks, kenapa tidak mereka diberikan kebebasan untuk tetap hidup dan berdampingan dengan masyarakat normal. Padahal penyakit-penyakit seksual, spilis, gonorhoe dan bahkan AIDS yang menyebar di masyarakat, sebagai mediatornya, sebagian besar adalah mereka. Bagaimana masyarakat tidak terganggu privasinya, sementara mereka asyik melakukan perbuatan yang dilaknat oleh Allah.
Kejadian-kejadian tersebut merupakan peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam, bahwa bukan tidak mungkin kejadian yang menimpa kaum Nabi Luth akan bisa terulang, bila kita sebagai manusia beriman, tidak bertindak untuk mencegahnya. Tugas kita adalah menghentikan dan membawa kembali para kaum penyimpang tersebut ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Perhatikan peringatan Allah dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 84 :
“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” Demikian Allah Maha Adil lagi Bijaksana. “Ya Allah, berikan keteguhan dan ketaatan kepada kami untuk tetap mengikuti ajaranMu !” Amin.