Media Madani

Membentuk opini generasi madani

PEMILU 2009, KUBURAN BAGI PARTAI BERORIENTASI KEKUASAAN

Posted by iwansuri pada Maret 23, 2009

Kampanye terbuka sudah dimulai beberapa hari yang lalu. Genderang perang antar partai politik di seantero nusantara yang diwasiti KPU pun secara resmi dibuka. Pertarungan bukan hanya antar partai politik, tapi juga antar calon anggota legislatif. Seluruh peserta pemilu yang berjumlah 44 partai politik berlomba-lomba mengkampanyekan dan mensosialisasikan program partai dan caleg. Seandainya dari angkasa bisa terlihat, maka bisa dipastikan para astronot akan tersenyum melihat Indonesia berwarna-warni, bak seorang anak kecil sedang berulang tahun dengan balon yang beraneka warna.

Sistem pemilu 2009 yang menggunakan sistem distrik ini memungkinkan caleg yang dikenal baik oleh masyarakat dan punya basis massa serta trek record dan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial bisa dipastikan akan mendapat dukungan dan suara yang signifikan. Oleh karena itu modal dana dan tampang serta kepopuleran saja tidaklah cukup. Masyarakat butuh bukti nyata, yaitu kepedulian akan nasib mereka. Hal ini terbukti, dari hasil survey yang dilakukan oleh salah satu lembaga survey di Bogor pada bulan Pebruari 2009, diperoleh data bahwa anggota legislatif (DPRD) yang rajin membantu masyarakat, mendapatkan elektabilitas yang cukup tinggi, yakni 70 persen dari tingkat kepopulerannya. Sebaliknya anggota legislatif yang jarang turun ke masyarakat dan kurang dikenal masyarakat memperoleh dukungan yang sangat kecil, bahkan ada kemungkinan tidak terpilih kembali. Hal ini merupakan isyarat bahwa masyarakat sekarang sudah cukup cerdas dengan partai politik pilihannya.

Partai politik yang hanya berorientasi kekuasaan dan bekerja 5 tahun sekali nampaknya harus siap-siap angkat koper dan bahkan siap-siap menggali kubur sendiri. Sebaliknya partai yang betul-betul ikhlas berjuang untuk kepentingan masyarakat, tanpa mengenal waktu, ada atau tidak ada pemilu, tetap melayani masyarakat, sudah bersiap untuk memegang tampuk pimpinan di negeri ini. Masyarakat bisa menebak partai mana yang akan memenangkan pemilu 2009. Semoga pemilu ini membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Ditulis dalam politik | Tinggalkan sebuah Komentar »

Calon independen, Kekuatan yang patut diperhitungkan dalam PILKADA

Posted by iwansuri pada September 2, 2008

Kemenangan RAHMAN (Rahmat Yasin-Karyawan Fathurahman) dalam PILKADA Kabupaten Bogor yang digelar tanggal 24 Agustus 2008 masih menyisakan segudang pertanyaan dan harapan. Walaupun kemenangan itu harus dibayar mahal dengan dana kampanye yang luar biasa dan kemungkinan harus digelar PILKADA babak kedua antara urutan pertama RAHMAN yang diusung koalisi PPP dan PDIP, serta Nu SAE (Nungki-Endang Kosasih) diurutan kedua yang diusung GOLKAR.

Yang menjadi pertanyaan masyarakat dari hasil PILKADA kemarin adalah kenapa posisi calon yang diusung oleh PKS SAE (Sunmanjaya-Ace Supeli) berada di posisi nomor buncit. Baru kali ini dalam sejarah PILKADA calon yang diusung PKS menempati posisi juru kunci. Kemana mesin politik PKS yang pada waktu PILGUB Jabar bertarung habis-habisan. Apakah kader PKS sudah kehabisan napas. Barangkali komentar beberapa tokoh politik lokal maupun nasional yang mengatakan bahwa mesin politik PKS tak kenal lelah dan selalu terisi bahan bakar semangat spiritual belum 100% tepat. Ada beberapa faktor kekalahan kader PKS yaitu kekurangan vitamin D (dana). Selain faktor kelelahan setelah bertarung digdaya dalam PILGUB Jabar. Disamping faktor geografis wilayah yang sangat luas (Kabupaten Bogor adalah wilayah terluas di Jawa Barat) dan faktor demografis masyarakat Kabupaten Bogor yang masih patrilinealistik atau sangat kuat dalam mengikuti tokoh lokal. Dukungan logistik yang cukup minim sangat berpengaruh terhadap kinerja kader-kader PKS di lapangan. Sedangkan calon lain banyak memanfaatkan sisi yang menjadi kelemahan dari calon yang diusung oleh PKS.

Calon lain DJURUS (Iyus Djuher-Rusdi Saleh) yang menjadi kuda hitam yang diusung partai-nya SBY, Partai Demokrat pun ikut babak belur, tidak berdaya dalam pertarungan yang banyak menyita logistik cukup besar.

Yang menjadi catatan penting dari PILKADA Kabupaten Bogor adalah munculnya calon alternatif yaitu calon independen (H.Maman Daning) yang melewati duo partai the rising star (PKS & Demokrat). Dengan dukungan logistik yang cukup besar calon yang juga pengusaha tersebut menerobos kantong-kantong masa partai politik. Ini sebuah peringatan bagi partai politik untuk tidak meremehkan kekuatan calon independen baik dalam PILKADA maupun PILPRES 2009. Kepopuleran dan daya dukung logistik yang besar akan menjadi ancaman bagi calon-calon yang didukung oleh partai politik.

Ditulis dalam politik | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

PKS, Metamorfosis Masyumi Masa Kini

Posted by iwansuri pada Agustus 31, 2008

Tak dapat dipungkiri, baik oleh orang awam maupun para pengamat politik, bahwa PKS (Partai Keadilan Sejahtera) adalah satu-satunya partai yang tumbuh dengan cepat tanpa diawali oleh figuritas atau tokoh-tokoh populis. Justru PKS mengembangkan dan menumbuhkan sendiri figur-figur nasional alternatif. Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring dan Anis Matta sekarang sudah menjadi ikon baru figur-figur nasional alternatif. Disamping sebelumnya sudah lebih dulu tampil ke pentas politik nasional adalah Nurmahmudi Ismail yang sekarang ditugaskan oleh partai dan mendapat amanah masyarakat untuk memimpin Kota Depok.

PKS sebagai partai berbasis kader tumbuh dengan cepat, terutama di kota-kota besar dan kota-kota yang memiliki basis kampus. Walaupun dihadang oleh beberapa black campaign laju kemenangan PKS dalam beberapa PILKADA baik tingkat provinsi maupun tingkat kota/kabupaten tak dapat dibendung. Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan dan Dede Yusup) di Jawa Barat, SYAMPURNO di Sumatra Utara atau bahkan gubernur termuda Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Madjdi – Badrul Munir di Nusa Tenggara Barat (walaupun yang terakhir ini dihadang dengan gugatan calon gubernur yang kalah kepada KPUD Provinsi NTB) adalah salah satu bukti kepiawaian kader-kader PKS dalam melihat kondisi perpolitikan di daerah. Mereka begitu selektif dalam memilih calon pemimpin daerah. Calon gubernur, walikota atau bupati yang mereka usung harus melalui seleksi yang sangat ketat. Ada kebanggaan tersendiri bagi calon gubernur/walikota/bupati terpilih untuk diusung oleh PKS, walaupun hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan.

Kesolidan kader-kader PKS cukup membuat partai lain memperhitungkan dalam PILKADA maupun PEMILU 2009. Bila para pimpinan beberapa partai politik masih sibuk dengan masalah internal partai, PKS sudah dari sejak awal mempersiapkan pertarungan di PEMILU 2009. Bahkan mereka sudah memasang target 20% suara di PEMILU 2009. Target itu bagi mereka bila dihitung dengan pertumbuhan dan perkembangan kader dan simpatisan adalah target minimal. Bila target itu terealisasi bisa menjadikan peta politik nasional berubah drastis. Saat ini hanya dengan 45 orang saja perwakilan mereka di DPR sudah merepotkan partai-partai besar. Apalagi kalau jumlah kader PKS ada 100 orang, pasti semakin menciutkan nyali partai-partai orde baru dan sekocinya.

Kepragmatisan PKS dalam berpolitik juga sangat terbantu dengan keterlibatan kader-kader PKS dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat. Banyak lembaga-lembaga amal mereka yang sudah diakui eksistensinya di tingkat nasional. Pendirian sekolah-sekolah islam terpadu, lembaga-lembaga zakat merupakan lahan subur aplikasi peran kader-kader PKS.

Harus diakui bahwa sebenarnya yang menjadi metamorfosis partai Masyumi saat ini adalah PKS, partai yang mengusung nilai-nilai dakwah dalam perannya di masyarakat. Semoga Allah meridhoi kemenangan kader-kader dakwah. Allah Akbar !

Ditulis dalam politik | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ryan, visualisasi penyimpangan kaum Homoseks

Posted by iwansuri pada Agustus 15, 2008

Mulai terkuaknya pembunuhan berantai di Jombang, yang menyeret satu tersangka utama yaitu Ferry Idham Heriyansyah atau Ryan, semakin meyakinkan masyarakat bahwa homoseks dari semenjak Nabi Luth sampai sekarang merupakan penyimpangan dari nilai-nilai moral universal. Tidak ada kata yang pantas untuk kaum penyimpang selain diisolasi dari tata kehidupan yang menjungjung tinggi hubungan antar manusia sejenis dan lain jenis, yang menjungjung tinggi ikatan suci perkawinan, dan menjungjung tinggi etika bermasyarakat.

Kasus Ryan, memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat, mana perilaku dan pelaku yang menyimpang, mana perilaku yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral. Allah mempertontonkan penyimpangan kaum homoseks dengan sangat jelas. Mereka dengan motivasi seksual yang menyimpang melakukan perbuatan amoral: mencuri, merampok, menipu dan bahkan tanpa segan akan menghabisi nyawa korbannya. Mereka tidak akan merasa berdosa, karena dosa bagi mereka adalah hak azasi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain bahkan termasuk oleh negara. Selama tidak mengganggu orang lain, begitu kata salah seorang praktisi homoseks, kenapa tidak mereka diberikan kebebasan untuk tetap hidup dan berdampingan dengan masyarakat normal. Padahal penyakit-penyakit seksual, spilis, gonorhoe dan bahkan AIDS yang menyebar di masyarakat, sebagai mediatornya, sebagian besar adalah mereka. Bagaimana masyarakat tidak terganggu privasinya, sementara mereka asyik melakukan perbuatan yang dilaknat oleh Allah.

Kejadian-kejadian tersebut merupakan peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam, bahwa bukan tidak mungkin kejadian yang menimpa kaum Nabi Luth akan bisa terulang, bila kita sebagai manusia beriman, tidak bertindak untuk mencegahnya. Tugas kita adalah menghentikan dan membawa kembali para kaum penyimpang tersebut ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Perhatikan peringatan Allah dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 84 :

“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” Demikian Allah Maha Adil lagi Bijaksana. “Ya Allah, berikan keteguhan dan ketaatan kepada kami untuk tetap mengikuti ajaranMu !” Amin.

Ditulis dalam sosial | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dampak Sosial Program BLT (Bantuan Langsung Tunai)

Posted by iwansuri pada Juli 1, 2008

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah sebesar Rp. 300.000,- per kepala keluarga cukup mengejutkan. Pasalnya dalam penelitian tersebut YLKI menyebutkan bahwa BLT berdampak negatif, karena justru pemerintah semakin terbebani dengan membengkaknya anggaran dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Kenapa pemerintah terbebani ? Ternyata berdasarkan penelitan tersebut, 15-20% dari dana BLT dihabiskan oleh bapak rumah tangga untuk rokok. Berarti kurang lebih sekitar Rp. 60.000,- dihabiskan untuk barang mubazir tersebut. Hal ini mengindikasikan pemerintah rugi dua kali. Yang pertama dengan dikeluarkannya anggaran BLT, dan berikutnya pemerintah juga harus menanggung dampak negatif dari diterimanya BLT, walaupun tidak secara langsung.

Dari kajian penelitian YLKI tersebut, pemerintah sekarang sedang menggodok rencana pengguliran dana BLT untuk kaum ibu. Rencananya program tersebut akan direalisasikan tahun 2009. Kebijakan tersebut banyak mendapatkan dukungan terutama dari LSM yang peduli terhadap kondisi perempuan. Bahkan BPS sudah ancang-ancang dengan melengkapi data BLT dengan nama Bapak, Ibu dan anak.

Program BLT sendiri yang baru diluncurkan sebagai antisipasi dampak kenaikan harga BBM banyak menuai pro dan kontra. Ada beberapa kepala daerah yang menolak program BLT. Karena lebih banyak menimbulkan kerusuhan sosial akibat salah sasarannya pendistribusian kartu BLT. Selain itu banyak oknum pejabat pemerintah yang melakukan penyelewengan dana BLT, entah itu dengan menjual kartu BLT atau memungut biaya atas pendistribusian kartu BLT. Dalam menyikapi penolakan tersebut, sebaiknya pemerintah pusat juga harus arif dengan mengantisipasi dampak sosial pendistribusian BLT.

Dampak psikososial dari BLT juga harus diantisipasi sejak dini. Dengan bertambahnya jumlah penduduk miskin yang sekarang mencapai angka 40 juta, semakin menambah beban sosial bagi pemerintah. Kalau dahulu masyarakat enggan masuk dalam kategori miskin, sekarang orang berlomba-lomba mengaku sebagai keluarga miskin agar mendapatkan kartu BLT. Hal ini menunjukkan rasa malu secara kolektif sudah hilang. Tidak jauh beda ketika dahulu orang sangat malu untuk melakukan tindakan korupsi, tapi karena sekarang sudah populer dan sudah banyak yang melakukannya, orang dengan mudah melakukan korupsi, walaupun konsekwensinya masuk penjara.

Sebaiknya pemerintah mengalihkan program BLT menjadi program pemberdayaan masyarakat, yaitu dengan menggandeng lembaga swadaya masyarakat dan badan-badan amil zakat yang sudah terbukti sukses dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat, diantaranya Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, PKPU, dan YDSF. Lembaga-lembaga tersebut sudah mempunyai kredibilitas tersendiri di mata masyarakat. Bahkan lembaga sekelas World Food Programme (WFP) pun banyak menggandeng LSM lokal sebagai mitra pelaksana pemberdayaan masyarakat. Sudah saatnya pemerintah memberikan kepercayaan kepada LSM lokal yang kredibel dan profesional.

Ditulis dalam sosial | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Hindari Tunggakan Listrik dengan Berhemat Pemakaiannya

Posted by iwansuri pada Juli 1, 2008

Gelap gulita ? kata yang menakutkan bagi masyarakat. Apalagi sekarang jaman sudah semakin instan. Tidak ada tempat yang tidak bisa dikunjungi oleh energi listrik, termasuk daerah terpencil sekalipun. Hampir setiap rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan energi listrik. Mulai dari alat penerang, lemari es, mesin setrika, mesin cuci, radio, televisi, dan komputer. Semua sangat tergantung kepada energi listrik. Lalu bagaimana bila energi listrik tidak ada alias padam? Kita sebagai pengguna pasti kelabakan. Dahulu kebutuhan listrik hanya untuk alat penerang, radio dan televisi. Tapi sekarang ? Kebutuhan energi listrik setiap rumah tangga yang dulunya rata-rata hanya 450W sekarang sudah 900Watt. Oleh karena itu PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebagai satu-satunya perusahaan energi listrik yang memonopoli kebutuhan listrik masyarakat, sangat berkepentingan agar energi ini tersalurkan dengan lancar kepada masyarakat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber bahwa saat ini PLN tengah mengalami kesulitan keuangan terkait dengan beban listrik yang semakin meningkat dan tunggakan pembayaran dari masyarakat yang semakin membesar. Maraknya tunggakan pembayaran dari masyarakat dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah beban ekonomi yang semakin berat karena kenaikan harga BBM. Selain itu awal masuk sekolah juga menjadi faktor pendorong berikutnya. Selain ada juga karena musin paceklik, faktor kebutuhan yang meningkat menjelang hari raya dan faktor-faktor lainnya. Untuk itu diperlukan kearifan dari kedua belah pihak. Masyarakat sebagai pengguna melaksanakan kewajibannya yaitu membayar sesuai dengan besaran dan waktu yang ditentukan, PLN juga sebagai penyedia layanan memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat. Faktor penghambat kelancaran pelayanan PLN, selain dari internal PLN sendiri yakni birokrasi dan masih banyaknya calo dalam pemasangan listrik baru. Sedangkan faktor penghambat dari masyarakat sebagai pelanggan adalah belum disiplinnya dalam membayar listrik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Berbagai upaya tengah dilakukan saat ini untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya dengan penghematan dari masyarakat sebagai pelanggan. Bahkan sudah sejak lama PLN mengkampanyekan penghematan pada jam-jam sibuk yaitu pada jam 17 sore sampai dengan 22 malam. Saat ini dikarenakan semakin beratnya beban energi listrik, maka untuk mempertahan eksistensi PLN, dilakukan pemadaman bergilir. Alhasil semuanya akan dikembalikan kepada masyarakat sebagai konsumen. Apakah ingin tetap mendapatkan pelayanan listrik dari PLN atau terpaksa dihentikan pasokan listriknya gara-gara keterlambatan dalam pembayaran listrik. Untuk itu sebagai antisipasi dari pemadaman, sebaiknya kita sebagai konsumen harus mulai berhemat dan mengurangi penggunaan energi listrik.

Ditulis dalam energi | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ujian Nasional, Ujian Ketidakjujuran Nasional

Posted by iwansuri pada Juni 30, 2008

Di beberapa daerah ada sekolah yang 100% siswanya lulus, ada pula sekolah yang 100% siswanya tidak lulus. Indikasi apakah ini ? Jelas Ujian Nasional di satu sisi menurut versi pemerintah ingin meningkatkan kualitas lulusan. Tapi disisi lain institusi pendidikan berlomba-lomba untuk mencapai target kelulusan 100%. Walaupun harus menggunakan cara-cara kolektif manipulatif, cara-cara yang tidak jujur secara terstruktur. Sangat kontradiktif dengan institusi pendidikan yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan etika. Bagaimana sebuah institusi pendidikan (sekolah) dalam hal ini guru akan memberikan pendidikan keteladanan, sedangkan mereka sendiri terlibat secara terstruktur dalam memberikan contoh yang tidak benar yaitu memanipulasi dan memberikan jawaban soal kepada siswa agar bisa lulus ujian nasional. Memang cukup sulit untuk mencari sebuah institusi pendidikan yang berkomitmen memegang nilai-nilai moral dan etika, walaupun harus rela melihat siswanya tidak lulus, bahkan bisa mencapai 100%. Komitmen moral mereka, yang konsisten dengan kejujuran harus mendapat apresiasi sangat tinggi dari kita semua, dari orang-orang yang peduli dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Berdasarkan informasi dari “guru-guru jujur”, di sebagian sekolah di Jabodetabek, sudah sangat lumrah sebuah sekolah baik negeri maupun swasta mempunyai “tim sukses” ujian nasional. Tim sukses ini yang bertugas mensukseskan nilai ujian siswa. Banyak cara untuk “mensukseskan” ujian nasional. Salah satunya adalah saat ujian nasional akan dimulai, siswa-siswi peserta ujian, masuk ke “bunker” (istilah tim sukses), mereka diberi kunci jawaban soal ujian. Ada pula cara yang cukup canggih dan halus, yaitu setelah ujian selesai soal ujian masuk ke “bunker” dan disana “diperbaiki lagi sehingga hasilnya sesuai harapan. Untuk guru-guru jujur, guru-guru yang mengusung nilai-nilai moral dan etika, mereka diisolir oleh pihak sekolah. Bahkan saking ketakukannya, tim sukses sekolah pun mengawasi gerak-gerik guru jujur tadi.
Tapi tidak semua sekolah seperti diatas, masih ada sekolah bermartabat, sekolah yang 100% gurunya jujur. Ini terjadi di salah satu sekolah menengah pertama swasta di pinggiran ibukota ini, ada kepala sekolah yang menolak untuk membuat “tim sukses” agar seluruh siswanya lulus. Ia berpendapat nilai ujian bukanlah segalanya, kejujuran harus tetap menjadi pilihan walaupun harus rela siswanya tidak lulus. Ia berusaha maksimal, dengan intensif melaksanakan try-out ujian nasional dan training motivasi untuk siswa-siswi kelas 3. Ia juga memberi motivasi kepada guru-gurunya, bahwa cara yang terbaik adalah mengusung nilai-nilai kejujuran dalan ujian nasional, tidak ada manipulasi soal, tidak ada tim sukses. Ia lawan arus besar ketidakjujuan yang melanda dunia pendidikan. Ia terus memberikan motivasi agar siswanya tetap semangat untuk lulus dengan kejujuran, tanpa dibantu oleh guru dan tim sukses. Dan ini terbukti ketika ujian nasional 2008, dari 24 siswa yang ikut ujian, hanya 9 siswa yang lulus. Sebuah upaya melawan ketidakjujuran sistemik.

Ujian nasional yang konon berbiaya besar (untuk ujian nasinal SD saja kurang lebih sekitar 250 milyar) menjadi sebuah proyek pemborosan nasional. Betapa tidak dana yang seharusnya bisa membiayai sarana dan prasarana gedung sekolah yang rusak, dihabiskan hanya untuk membiayai proyek manipulatif. Apalagi kalau kita mengacu kepada teori multiple intelegence, standar kelulusan tidak bisa hanya diukur dengan 3 mata pelajaran saja, yang berarti mengukur kecerdasan manusia hanya dengan beberapa aspek saja. Padahal menurut Howard Gardner, penemu multiple intelegence, manusia mempunyai kecerdasan majemuk. Setiap manusia mempunyai potensi kecerdasan yang berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan ujian nasional, siswa tidak bisa begitu saja dinilai hanya dari ujian akhir saja. Guru yang bersangkutan lebih mengetahui potensi kecerdasan siswanya. Mulai dari pengerjaan tugas harian, interaksi kelompok, tes formatif dan ujian tengah dan akhir semester. Semuanya bisa menjadi parameter kelulusan siswa. Menjadi sebuah pertanyaan bagaimana siswa yang jarang ikut kegiatan belajar mengajar dapat dengan mudah lulus ujian nasional. Disinilah peran guru dan sekolah berbicara. Mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dan menjunjung tinggi nilai moral dan etika atau masuk dalam arus besar ketidakjujuran. Sudah selayaknya program ujian nasional ditinjau ulang dan bahkan bila perlu diganti dengan sistem yang lebih mementingkan kualitas dibanding kwantitas.

Allah akan menilai setiap langkah perbuatan manusia. ” Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS – Al Anbiya : 21).

Ditulis dalam pendidikan | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

HADE, Inspirasi Kaum Muda untuk Berprestasi

Posted by iwansuri pada Juni 16, 2008

Kemenangan fenomenal HADE (Ahmad Heryawan – Dede Yusuf) yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PK)S) dan Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat memberikan inspirasi bagi kaum muda untuk tampil ke tampuk pimpinan pemerintahan baik di tingkat lokal (tingkat Kota/Kabupaten/Provinsi) maupun di tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkat nasional. Euforia tampilnya kaum muda dalam memegang kendali pemerintahan juga diinspirasi dengan kemenangan Barack Obama di Amerika Serikat untuk menjadi kandidat presiden Partai Demokrat untuk bersaing dengan jago tua Partai Republik, Jhon McCain. Sejarah akan membuktikan kaum muda tidak hanya bisa mengumbar janji, tapi memberikan bukti dan kesungguhan dalam merealisasikan program yang sudah ditawarkan dan dijanjikan.

Keberanian pasangan HADE dalam menandatangani kontrak politik dengan mahasiswa patut mendapat kredit poin tersendiri. Hal ini terbukti ketika masyarakat memberikan apresiasi dengan memilih mereka sebagai pemimpin Jawa Barat. Walaupun faktor lain yang juga sangat dominan seperti trek rekor yang bersih dari kedua calon dan juga kepopuleran komandan Bodrex, Dede Yusuf, sebagai selebritis-politikus, ditambah dengan mesin politik PKS yang solid ikut memperlancar kemenangan HADE. Disamping tentunya juga merupakan sebuah skenario dari Sang Khaliq, Allah Subhanahuwataala, Tuhan Pencipta alam semesta beserta isinya.

Figur Ahmad Heryawan yang mempunyai latar belakang ilmu syariah dan dari keluarga pesantren, disamping sebagai politikus muda yang bersih dan peduli terhadap persoalan-persoalan masyarakat, ditambah dengan Dede Yusuf, politikus dan juga artis film yang profesional, merupakan perpaduan yang kuat untuk membangun Jawa Barat. Pada saat ini masyarakat sudah menunggu kiprah dan aksi HADE untuk memberikan pelayanan dan kepemimpinan terbaik bagi masyarakat Sunda.

Pengaruh dominan dari tampilnya HADE sebagai pemenang PILGUB Jawa Barat adalah memberikan inspirasi signifikan bagi kaum muda Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya untuk berprestasi, berkreasi dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Meraih kemenangan tentunya jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengisi kemenangan itu dengan program-program nyata yang memberikan maslahat bagi masyarakat. Masyarakat Jawa Barat mempunyai harapan besar terhadap kepemimpinan muda yang dinamis, jujur dan profesional. Kita tunggu kiprah HADE untuk Jawa Barat.

Ditulis dalam politik | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Insiden Monas, sebuah ujian bagi Umat Islam Indonesia

Posted by iwansuri pada Juni 10, 2008

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS.5:51)

Aksi damai AKKBB di Monas 1 Juni 2008 yang begitu rapi membalut dan menutupi tujuan sebenarnya yaitu membela eksistensi Ahmadiyah di Indonesia. Slogan pluralisme, hak azasi manusia, dan kebebasan berkeyakinan menjadi isu utama demo mereka. Tapi secerdas-cerdasnya manusia tentu ada batasnya. Kebohongan AKBB akhirnya terkuak dengan terjadinya bentrokkan dengan masa FPI dan Komando Laskar Islam. Kedua laskar Islam tersebut segera menyerang masa pendemo karena diprovokasi.

Bentrokkan akhirnya tidak dapat dihindarkan. Dan yang bergembira terjadinya bentrokkan tersebut adalah orang-orang kafir (termasuk didalamnya agen asing yang berhasil menjalankan tugasnya dengan baik). FPI dan KLI pun terprovokasi dan terjebak untuk melakukan aksi fisik terhadap masa pendemo AKBB.

Perang kata-kata antara pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab, dengan Ketua Dewan Syuro PKB, Abdurahman Wahid semakin memicu konflik horisontal, dan mulai menyebar ke wilayah lain. Masa pro Gusdur menyantroni markas FPI di Surabaya dan di tempat lain. Bahkan ketua FPI Surabaya harus rela membubarkan FPI Cabang Surabaya, karena tekanan masa pro Gusdur tersebut.

Di Jakarta demo anti Ahmadiyah semakin marak, dan meminta pemerintah segera menerbitkan SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah.

SKB akhirnya terbit pada hari Senin 9 Juni 2008, walaupun belum memuaskan semua pihak. Tapi dengan keluarnya SKB tersebut kegiatan Ahmadiyah dibekukan. Umat Islam bisa memetik pelajaran berharga dari kasus tersebut. Metode dakwah yang frontal bisa mengakibatkan bentrokkan fisik antar umat Islam sendiri. Dakwah memang panjang, dan perlu kesabaran untuk meraih kemenangan.

Ya Allah berilah kemenangan buat umat Islam, dan berilah kesabaran untuk meraihnya, amin.

Ditulis dalam politik | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.