Di beberapa daerah ada sekolah yang 100% siswanya lulus, ada pula sekolah yang 100% siswanya tidak lulus. Indikasi apakah ini ? Jelas Ujian Nasional di satu sisi menurut versi pemerintah ingin meningkatkan kualitas lulusan. Tapi disisi lain institusi pendidikan berlomba-lomba untuk mencapai target kelulusan 100%. Walaupun harus menggunakan cara-cara kolektif manipulatif, cara-cara yang tidak jujur secara terstruktur. Sangat kontradiktif dengan institusi pendidikan yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan etika. Bagaimana sebuah institusi pendidikan (sekolah) dalam hal ini guru akan memberikan pendidikan keteladanan, sedangkan mereka sendiri terlibat secara terstruktur dalam memberikan contoh yang tidak benar yaitu memanipulasi dan memberikan jawaban soal kepada siswa agar bisa lulus ujian nasional. Memang cukup sulit untuk mencari sebuah institusi pendidikan yang berkomitmen memegang nilai-nilai moral dan etika, walaupun harus rela melihat siswanya tidak lulus, bahkan bisa mencapai 100%. Komitmen moral mereka, yang konsisten dengan kejujuran harus mendapat apresiasi sangat tinggi dari kita semua, dari orang-orang yang peduli dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.
Berdasarkan informasi dari “guru-guru jujur”, di sebagian sekolah di Jabodetabek, sudah sangat lumrah sebuah sekolah baik negeri maupun swasta mempunyai “tim sukses” ujian nasional. Tim sukses ini yang bertugas mensukseskan nilai ujian siswa. Banyak cara untuk “mensukseskan” ujian nasional. Salah satunya adalah saat ujian nasional akan dimulai, siswa-siswi peserta ujian, masuk ke “bunker” (istilah tim sukses), mereka diberi kunci jawaban soal ujian. Ada pula cara yang cukup canggih dan halus, yaitu setelah ujian selesai soal ujian masuk ke “bunker” dan disana “diperbaiki lagi sehingga hasilnya sesuai harapan. Untuk guru-guru jujur, guru-guru yang mengusung nilai-nilai moral dan etika, mereka diisolir oleh pihak sekolah. Bahkan saking ketakukannya, tim sukses sekolah pun mengawasi gerak-gerik guru jujur tadi.
Tapi tidak semua sekolah seperti diatas, masih ada sekolah bermartabat, sekolah yang 100% gurunya jujur. Ini terjadi di salah satu sekolah menengah pertama swasta di pinggiran ibukota ini, ada kepala sekolah yang menolak untuk membuat “tim sukses” agar seluruh siswanya lulus. Ia berpendapat nilai ujian bukanlah segalanya, kejujuran harus tetap menjadi pilihan walaupun harus rela siswanya tidak lulus. Ia berusaha maksimal, dengan intensif melaksanakan try-out ujian nasional dan training motivasi untuk siswa-siswi kelas 3. Ia juga memberi motivasi kepada guru-gurunya, bahwa cara yang terbaik adalah mengusung nilai-nilai kejujuran dalan ujian nasional, tidak ada manipulasi soal, tidak ada tim sukses. Ia lawan arus besar ketidakjujuan yang melanda dunia pendidikan. Ia terus memberikan motivasi agar siswanya tetap semangat untuk lulus dengan kejujuran, tanpa dibantu oleh guru dan tim sukses. Dan ini terbukti ketika ujian nasional 2008, dari 24 siswa yang ikut ujian, hanya 9 siswa yang lulus. Sebuah upaya melawan ketidakjujuran sistemik.
Ujian nasional yang konon berbiaya besar (untuk ujian nasinal SD saja kurang lebih sekitar 250 milyar) menjadi sebuah proyek pemborosan nasional. Betapa tidak dana yang seharusnya bisa membiayai sarana dan prasarana gedung sekolah yang rusak, dihabiskan hanya untuk membiayai proyek manipulatif. Apalagi kalau kita mengacu kepada teori multiple intelegence, standar kelulusan tidak bisa hanya diukur dengan 3 mata pelajaran saja, yang berarti mengukur kecerdasan manusia hanya dengan beberapa aspek saja. Padahal menurut Howard Gardner, penemu multiple intelegence, manusia mempunyai kecerdasan majemuk. Setiap manusia mempunyai potensi kecerdasan yang berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan ujian nasional, siswa tidak bisa begitu saja dinilai hanya dari ujian akhir saja. Guru yang bersangkutan lebih mengetahui potensi kecerdasan siswanya. Mulai dari pengerjaan tugas harian, interaksi kelompok, tes formatif dan ujian tengah dan akhir semester. Semuanya bisa menjadi parameter kelulusan siswa. Menjadi sebuah pertanyaan bagaimana siswa yang jarang ikut kegiatan belajar mengajar dapat dengan mudah lulus ujian nasional. Disinilah peran guru dan sekolah berbicara. Mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dan menjunjung tinggi nilai moral dan etika atau masuk dalam arus besar ketidakjujuran. Sudah selayaknya program ujian nasional ditinjau ulang dan bahkan bila perlu diganti dengan sistem yang lebih mementingkan kualitas dibanding kwantitas.
Allah akan menilai setiap langkah perbuatan manusia. ” Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS – Al Anbiya : 21).